JAKARTA – Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, mengungkapkan perkembangan terbaru terkait laporan terhadap komika Pandji Pragiwaksono. Laporan yang dilayangkan oleh Angkatan Muda Nahdlatul Ulama (NU) dan Aliansi Muda Muhammadiyah pada Rabu (7/1/2026) tersebut kini masuk dalam tahap klarifikasi saksi pelapor dan pengolahan barang bukti.
Pihak kepolisian menegaskan bahwa saat ini fokus utama penyidik adalah mendengarkan keterangan dari pihak pelapor serta melakukan pemeriksaan digital terhadap alat bukti yang diserahkan.
“Saat sekarang penyidik masih memprioritaskan mengundang klarifikasi pihak pelapor terdahulu. Dari keterangan pelapor termasuk tadi yang disampaikan ada penyerahan tiga alat barang bukti. Satu flash disk dengan beberapa unggahan video narasi,” ungkap Budi Hermanto pada Senin (12/1/2026).
Budi menambahkan bahwa proses hukum ini membutuhkan ketelitian, termasuk pelibatan saksi ahli untuk memvalidasi isi konten dalam video tersebut. Hal ini diperlukan untuk menentukan apakah materi dalam pertunjukan Mens Rea memenuhi unsur tindak pidana sesuai Pasal 300, 301, 242, dan 243 KUHP yang disangkakan.
“Beri kami ruang untuk kami bisa membuktikan bahwa yang diberikan ini masuk dalam ranah barang bukti yang bisa dapat dipertanggungjawabkan, termasuk dokumen, screenshot, percakapan, maupun foto,” tuturnya.
Dampak Masif Penayangan di Netflix
Di tengah proses hukum yang berjalan, Pandji Pragiwaksono justru mencatat pencapaian luar biasa sejak Mens Rea resmi tersedia di platform Netflix pada 27 Desember 2025. Pandji mengaku mengalami lonjakan perhatian publik dan interaksi digital yang sangat signifikan dalam kurun waktu satu minggu terakhir.
Dalam video unggahan di kanal YouTube pribadinya pada Senin (12/1/2026), Pandji membeberkan bahwa dirinya menerima ratusan tag di media sosial setiap harinya dari penonton baru.
“Per hari itu puluhan, bahkan di atas seratus orang yang nge-tag gue,” kata Pandji. Ia juga menambahkan adanya peningkatan jumlah pengikut Instagram yang mencapai 100 ribu followers baru hanya dalam sepekan.
Respons tidak hanya datang dari netizen umum, tetapi juga dari figur senior dan rekan sesama artis. “Banyak juga teman-teman yang WhatsApp, mention, dari berbagai industri dan berbagai level. Ada yang legend kayak Katon Bagaskara, Yenny Wahid, atau Desta,” ujar Pandji.
Menurut Pandji, kekuatan distribusi platform global seperti Netflix menjadi kunci utama mengapa materi stand up-nya bisa menjangkau audiens yang jauh lebih luas dibandingkan sebelumnya. Ia menilai banyak orang yang penasaran menonton secara utuh karena ramainya perbincangan di ruang publik.
“Ini gambaran betapa berdampaknya ditaruh di platform. Ada ungkapan ‘content is king, distribution is queen’. Naruh di Netflix itu efeknya luar biasa,” pungkasnya.















